5 Kesalahan Manajer yang Merusak Penilaian Kinerja

Macrovector, Freepik
Penilaian kinerja bisa dibilang merupakan percakapan terstruktur paling penting yang dilakukan manajer sepanjang tahun. Ini bukan sekadar tugas administratif untuk memberi nilai pada karyawan. Ini adalah titik sentuh budaya yang krusial untuk menetapkan ekspektasi, membentuk karier, dan menentukan tingkat keterlibatan.
Namun, berulang kali, para manajer sering kali karena kurangnya pelatihan atau pelaksanaan yang terburu-buru melakukan kesalahan yang sebenarnya mudah dihindari. Akibatnya, proses ini berubah menjadi sumber kecemasan, rasa kesal, dan bahkan pengunduran diri.
Sebagai penjaga pengalaman karyawan, HR harus membekali para manajer untuk menghindari lima jebakan umum berikut dan mengubah penilaian menjadi pendorong pertumbuhan yang kuat.
5 Kesalahan Penilaian Kinerja yang Harus Dihindari Manajer
1. Jebakan Bias Terbaru
Ingatan manusia terkenal pendek. Kita cenderung terlalu menekankan peristiwa yang terjadi baru-baru ini, biasanya dalam 60 hingga 90 hari terakhir, dan mengabaikan sembilan bulan kerja sebelumnya.
- Kesalahan: Manajer memusatkan 80 persen penilaian pada presentasi hebat yang dilakukan karyawan bulan lalu atau krisis besar yang baru saja berhasil diatasi, sambil mengabaikan satu tahun penuh kinerja yang konsisten. Sebaliknya, satu kegagalan di kuartal keempat dapat menutupi setahun keunggulan.
- Perbaikan Budaya: HR harus mewajibkan dan mengaudit Log Bukti Berkala. Manajer diwajibkan mengumpulkan serta memberi penanda waktu pada contoh spesifik dan nyata, baik untuk umpan balik positif maupun korektif, setiap kuartal. Penilaian kemudian menjadi rangkuman dari log ini, bukan ingatan spontan berdasarkan memori sesaat.
2. Mencampuradukkan Kepribadian dengan Kinerja
Kesalahan ini berakar pada perbedaan antara “bagaimana perasaan saya terhadap Anda” dan” apa yang Anda capai.” Manajer sering kali menilai berdasarkan faktor subjektif seperti sikap, kesan usaha, atau seberapa sering terlihat di kantor.
- Kesalahan: Manajer memberi nilai lebih rendah pada pekerja jarak jauh yang pendiam namun efisien dibandingkan rekan yang kurang produktif tetapi sangat terlihat dan banyak berbicara di kantor. Umpan balik berfokus pada sifat pribadi seperti perlu lebih proaktif, alih-alih metrik objektif seperti Proyek X selesai 15 persen di bawah anggaran.
- Perbaikan Budaya: Terapkan Anchored Behavioral Rating Scales atau BARS. Ini adalah tugas HR. Berikan contoh perilaku yang jelas dan spesifik untuk setiap tingkat penilaian. Misalnya, alih-alih menilai “Komunikasi”, nilai “Kejelasan Pembaruan Proyek” dengan contoh konkret.
- Nilai Tinggi: “Secara proaktif merangkum status proyek dalam email mingguan berisi lima poin penting, termasuk risiko dan ketergantungan.”
- Nilai Rendah: “Hanya memberikan pembaruan status saat diminta langsung dan sering kali melewatkan metrik penting.”
3. Bencana Umpan Balik Model “Sandwich”
Model sandwich, yaitu pujian, kritik, lalu pujian lagi, adalah mitos manajerial yang sudah banyak dibantah namun masih sering digunakan.
- Kesalahan: Pendekatan ini sering membingungkan karyawan dan melemahkan pesan utama. Karyawan meninggalkan sesi dengan hanya mengingat dua pujian dan sama sekali melewatkan area utama yang perlu diperbaiki. Selain itu, pujian terasa tidak tulus dan manipulatif.
- Perbaikan Budaya: Latih manajer menggunakan Percakapan Coaching Khusus. Pengakuan positif dan kritik konstruktif harus dipisahkan. Gunakan sesi penilaian untuk evaluasi menyeluruh dan penetapan tujuan. Jika diperlukan umpan balik korektif yang spesifik, itu seharusnya sudah diberikan dalam sesi coaching tersendiri jauh sebelum tanggal penilaian formal.
Baca Juga: Feedback Bukan Sekadar Kritik tapi Cara Membangun Performa dan Hubungan
4. Terlalu Fokus pada Kegagalan Masa Lalu
Penilaian yang hanya berfokus pada kesalahan selama 12 bulan terakhir hanyalah sesi pertanggungjawaban, bukan alat pengembangan.
- Kesalahan: Manajer menjadikan penilaian sebagai daftar keluhan dan target yang tidak tercapai, sehingga karyawan merasa defensif, kehilangan motivasi, dan mulai mencari pekerjaan baru.
- Perbaikan Budaya: Prinsip 70/30 Future Focus. HR harus menyusun dokumen penilaian yang mewajibkan 70% waktu percakapan difokuskan pada masa depan. Ini mencakup rencana pengembangan, pelatihan yang dibutuhkan, tujuan karier baru, serta diskusi tentang bagaimana perusahaan dapat mendukung pertumbuhan karyawan di tahun mendatang. Dengan demikian, penilaian berubah dari evaluasi nilai diri menjadi rencana kesuksesan.
5. Mengabaikan Diskusi Konteks yang Krusial
Alasan paling umum seorang karyawan berkinerja rendah bukanlah karena kurangnya usaha atau kurangnya keterampilan, melainkan karena kurangnya dukungan organisasi, sumber daya yang memadai, atau kejelasan arah dan ekspektasi. Namun, manajer sering kali gagal mengajukan pertanyaan penting yang dapat mengungkap hambatan-hambatan tersebut.
- Kesalahan: Manajer hanya memberikan penilaian terhadap hasil akhir tanpa mengeksplorasi konteks yang melatarbelakanginya. Mereka mungkin mengatakan, “Anda gagal mencapai target penjualan kuartal ketiga,” alih-alih bertanya, “Kendala organisasi apa, (seperti kurangnya dukungan pemasaran, sistem CRM yang bermasalah, atau ketidaksesuaian produk), yang mencegah Anda mencapai target penjualan kuartal ketiga?”
- Perbaikan Budaya: Wajibkan adanya bagian Tinjauan Diri Manajer dalam setiap dokumen penilaian kinerja. Manajer harus menjawab pertanyaan berikut, “Sumber daya, dukungan, atau kejelasan apa yang gagal saya berikan sehingga berdampak pada kinerja karyawan ini?” Pendekatan ini menggeser akuntabilitas dari sekadar masalah individu menjadi peluang perbaikan bersama di tingkat organisasi.
Dengan mengatasi lima kesalahan ini, HR dapat mengangkat penilaian kinerja dari sekadar kewajiban administratif menjadi alat nyata untuk perbaikan berkelanjutan dan penguatan budaya kerja.
Masterclass Mendatang untuk Senior Leaders:
Malaysia Leadership IMMERSION WEEK 2026
Dalam banyak organisasi, performance review yang tidak efektif sering disebabkan oleh kesalahan mendasar seperti tidak cukup persiapan, terlalu fokus pada kesalahan, atau komunikasi yang tidak jelas, sehingga proses yang seharusnya membangun justru menimbulkan kebingungan dan demotivasi. Leaderonomics Malaysia Leadership IMMERSION WEEK 2026 (24 Juni – 1 Juli 2026) hadir untuk membantu Anda memahami praktik yang lebih baik dalam mengevaluasi kinerja, membangun komunikasi yang konstruktif, dan memimpin tim dengan cara yang lebih efektif dan memberdayakan.
Daftar Sekarang di events.leaderonomics.com
Kepemimpinan
Tags: Jadilah Seorang Pemimpin, Kepemimpinan Tanpa Batas, Konsultasi, Pertumbuhan
Marissa Lau adalah praktisi pengembangan organisasi dengan latar belakang ilmu psikologi. Ia menjabat sebagai Head of Budaya, sebuah departemen budaya dan keterlibatan yang membantu organisasi mendengarkan lebih baik, membangun tempat kerja yang lebih sehat, serta mengubah insight karyawan menjadi aksi nyata. Bekerja di persimpangan kepemimpinan, budaya, dan perilaku manusia, ia menerjemahkan konsep kompleks menjadi wawasan praktis bagi individu dan organisasi, didukung pengalaman dalam koordinasi proyek dan kolaborasi lintas fungsi. Fokusnya mencakup employee engagement, kesejahteraan di tempat kerja, inovasi pembelajaran, serta masa depan kerja, dengan keyakinan kuat pada pentingnya membangun organisasi yang berpusat pada manusia agar kinerja dan individu dapat berkembang bersama.




